Sejarah

Puing-puing kerajaan islam terbesar di Asia Tenggara dapat Anda lihat di kota ini.

Di balik kemegahan Kota Banda Aceh sekarang, ada banyak lembaran sejarah tersimpan. Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Indonesia, pertumbuhan kota ini tak lepas dari pengaruh sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Aceh dulunya merupakan sebuah negeri tersendiri dengan ibukotanya Bandar Aceh Darussalam (kini Banda Aceh). Posisi geografisnya sangat strategis di antara Selat Malaka dan Samudera Hindia.

Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan Hindu dan Budha, yang lebih dulu berkembang, seperti Kerajaan Indrapurwa, Kerajaan Indrapatra, dan Kerajaan Indrapura. Jejak ketiga kerajaan itu masih dapat dilihat hingga kini, yang terletak di pesisir laut Banda Aceh dan Aceh Besar.

Lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam juga tidak terlepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri yang berada di Krueng Raya, Aceh Besar. Kerajaan yang dalam catatan literasi pernah disinggahi oleh Marcopolo dan Laksamana Chengho—yang memberikan hadiah Lonceng Cakradonya kepada Kesultanan Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Ia memerintah selama 10 tahun. Kendati masa pemerintahannya relatif singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Pada masa pemerintahannya, Banda Aceh berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan. Aceh ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu-lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Adapun Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam dibangun oleh Sultan Johan Syah pada hari Jumat, tanggal 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M).

Bandar Aceh Darussalam kemudian menjadi kota regional utama, terkenal sebagai pusat pendidikan islam dan poros perdagangan. Karena itu, kota ini dikunjungi banyak pelajar dan pedagang dari Arab, China, Eropa, hingga India. Sebagian pendatang akhirnya menetap di Aceh dan menikah dengan wanita lokal. Sehingga menciptakan akulturasi budaya.