Kopi pertama kali ditemukan di Provinsi Kaffa, Ethiopia, kemudian minuman kopi dipopulerkan oleh bangsa Eropa. Rumah kopi atau coffee house lalu tumbuh di Turki, yang menjadi pusat pertukaran informasi dan pertunjukan seni, sementara bagi kalangan sufi secangkir kopi menjadi minuman pendamping saat beribadah kepada Sang Pencipta.

Coffee house yang berkembang di Turki menginspirasi bangsa Amerika menciptakan coffee shop. Kedai kopi lahir di sudut-sudut kota. Sementara para penjajah dari Eropa membawa kopi ke Asia, termasuk ke Indonesia.

Pulau Sumatera dan Jawa menjelma lahan basah budidaya kopi dan kini menjadi produsen kopi terbesar di Nusantara berikut biji kopinya menjadi incaran para pengusaha kopi dunia.

Provinsi Aceh juga memiliki kopi arabika terbaik yang tumbuh di Dataran Tinggi Gayo, sekitar 300-an km dari ibu kota provinsi. Perkebunan kopi menjadi pemandangan menarik saat Anda berkunjung ke Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

Hanya Perlu ke Banda Aceh

Namun untuk menikmati racikan kopi kelas dunia, Anda hanya perlu datang ke Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Baik kopi robusta maupun arabika, diracik dengan sempurna oleh barista di kedai kopi tradisional maupun modern.

Ketika tiba di Banda Aceh, Anda akan mendengarkan ajakan “ngopi” di seantero kota. Setiap sudut maupun blok di kota ini dipenuhi oleh warung kopi. Para pengunjung menikmati kopi untuk berdiskusi, bertukar informasi, hingga menjadi ajang pertunjukan seni. Layaknya coffee house di Turki dahulu kala.

Kopi Sareng, Boh Manok Weng, Kupi Pancong, Sanger Pancong atau disebut SP, akan Anda dengar saat memasuki warung kopi tradisional. Singgahi pula sejumlah coffee shop untuk mencicipi racikan kopi premium seperti Sanger Espresso, Sanger Arabica, Nirapresso, Espresso Madu, hingga Kupi Durian.

Ngopi 24 Jam!

Jangan kaget menemukan orang-orang memenuhi warung kopi mulai dari pagi hingga tengah malam. Bahkan ada warung kopi yang buka 24 jam! Hanya di Banda Aceh Anda bisa menemukan seperti ini.

Sehabis shalat Subuh, para jamaah bersilaturrahmi di warung kopi, sebelum memulai aktivitas. Pagi sampai sore, orang-orang bertemu di kedai kopi untuk membahas bisnis atau pekerjaan. Ada pula yang memilih kedai kopi sebagai tempat bekerja, bagi para freelancer atau pelaku usaha startup. Pun tak sedikit menjadikan warung kopi sebagai tujuan melepas penat bersama teman-teman. Di malam hari, hampir dipastikan semua kedai kopi di Banda Aceh penuh terisi warga kota dan pendatang.

Tak hanya di warung kopi, kami menyeduh kopi di rumah atau di kantoran. Jadi kemana pun Anda bepergian di Banda Aceh, pasti akan menemukan ajakan untuk menikmati kopi bersama. Warga kota mengucapnya “ngopi”. Bahkan, para pelaku wisata menjadikan ngopi sebagai welcome drink bagi para turis yang baru datang ke Banda Aceh. Itulah budaya kami. Dan kami bisa mengatakan: Anda belum sah ke Banda Aceh kalau belum menikmati secangkir kopi Aceh!