Makam Syiah Kuala dan Daya Tariknya

Artikel

Makam Syiah Kuala menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Bagi masyarakat lokal, ada daya tarik tersendiri pada makam ini. Banyak orang berziarah ke Makam Syiah Kuala untuk berdoa, menunaikan nazar, tur sejarah, ada juga yang sekedar datang untuk melihat makam.

Makam Syiah Kuala terletak di pinggir Kota Banda Aceh dan hanya selemparan batu dengan Pantai Syiah Kuala. Ketika bencana gempa bumi berkekuatan 9,1 skala richter yang menyebabkan tsunami menerjang Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004 silam, kawasan ini hampir rata dengan tanah.

Namun Makam Syiah Kuala tidak mengalami kerusakan berarti. Karena itu makam ini dipercaya keramat oleh sebagian masyarakat setempat.

Waktu Terbaik Kunjungan

Makam ini terletak di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Dibutuhkan waktu sekitar 18 menit berkendara dari Masjid Raya Baiturrahman menuju lokasi. Anda bisa mendatangi Makam Syiah Kuala menggunakan kendaraan pribadi ataupun layanan transportasi online seperti Go-Jek.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Makam Syiah Kuala ialah pada pagi atau sore hari. Jika datang sore hari, Anda bisa sekalian menikmati suasana pantai dan matahari terbenam dari Pantai Syiah Kuala. Pantai ini cukup ramai didatangi warga saban sore, masyarakat setempat juga menjajakan makanan dan minuman.

Di dekat Makam Syiah Kuala, terdapat beberapa rumah makan yang layak dicoba untuk makan siang. Diantaranya ialah Kuala Village dan Rumah Makan Syiah Kuala yang menyajikan beragam menu makanan tradisional seperti kuah beulangong dan ayam tangkap.

Siapa Syiah Kuala?

Syiah Kuala bernama asli Syech Abdurrauf bin Ali Alfansuri, namun lebih dikenal dengan sebutan Syiah Kuala. Beliau lahir pada awal abad ke-16 dan meninggal pada akhir abad ke-16, tepatnya pada tahun 1693 masehi.

Ia merupakan seorang ulama terkemuka pada masanya. Syiah Kuala dikenal ahli hukum dan menjadi salah satu penasehat Kerajaan Aceh Darussalam.

Menurut riwayat, Syiah Kuala dipercaya sebagai Kadhi Malikul Adil Kerajaan Aceh Darussalam selama 59 tahun. Jabatan setara hakim agung itu diembannya masa kepemimpinan empat ratu: Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1645 M), Sultanah Naqiatuddin Syah (1675-1678 M), Sultanah Zakiatuddin Syah (1678-1688 M) dan Sultanah Ratu Kamalat Syah (1688-1699 M).

Ada satu ungkapan terkenal di Aceh yang menggambarkan kedudukan Syiah Kuala, yaitu, "adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala", artinya, "adat pada Po Teumeureuhom, hukum pada Syiah Kuala".

Syiah Kuala wafat pada 23 Syawal 1106 H (1696 M) dalam usia 105 tahun. Saat ini, nama Syiah Kuala ditabalkan pada sebuah perguruan tinggi negeri di Provinsi Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Selain itu juga sebagai nama jalan kota.