Kota Tanah Bencana

Artikel

Roda pemerintahan Provinsi Aceh diatur dari kota seluas 61 ribu hektare ini. Secara geologi terletak di lempengan bumi rawan bencana.

Perumahan penduduk, perkantoran, pusat pemerintahan, kawasan pengembangan ekonomi, shopping center, taman-taman, pusat edukasi, dan rumah ibadah, berdiri di atas tanah yang sebenarnya rentan bencana.

Literatur kebencanaan mencatat, Provinsi Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan Australia. Aceh bahkan berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda. Ini dikenal dengan Sesar Semangko.

Sesar Semangko memanjang dari Banda Aceh hingga Lampung.

Patahan ini bergeser sekitar 11 cm/tahun dan merupakan daerah rawan gempa dan longsor. Kota Banda Aceh diapit oleh dua patahan di barat dan timur kota, yaitu patahan Darul Imarah dan Darussalam, sehingga Banda Aceh adalah suatu daratan hasil ambalasan sejak Pilosen membentuk suatu Graben.

Fenomena itu menunjukkan ruas-ruas patahan Semangko di Pulau Sumatera berada persis di bawah lapisan tanah Kota Banda Aceh.

Sesar aktif di patahan ini juga bertemu pada pegunungan di sebelah tenggara, sehingga menyebabkan dataran Banda Aceh merupakan batuan sedimen yang berpengaruh kuat jika diguncang gempa di sekitarnya. Terakhir gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menyapu sebagian Kota Banda Aceh.