Jelajah Gampong Pande, Desa Kaya Sejarah

Rekomendasi Wisata

Kota Banda Aceh penuh sejarah. Sampai saat ini Anda masih bisa melihat langsung makam-makam zaman dulu pada masa kerajaan dengan bentuk dan ukiran unik sesuai kebudayaan dan peradaban yang berkembang berabad-abad silam.

Wisata sejarah tidak selalu membosankan dan kaku seperti di museum. Menelusuri Gampong (Desa) Pande merupakan pilihan tepat jika Anda tertarik dengan destinasi sejarah. Di sini, Anda bisa melakukan perjalanan melihat peninggalan sejarah pada beberapa lokasi yang berdekatan.

Gampong Pande yang terletak di dekat pesisir Kota Banda Aceh, berjarak sekitar 10 menit berkendara dari pusat Kota Banda Aceh. Untuk datang ke Gampong Pande, bisa menggunakan kendaraan atau jasa transportasi online seperti Grab, Go-Jek, dan Maxim; bisa juga naik becak.

Desa ini sendiri merupakan perkampungan purba cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh. Karenanya, terdapat berbagai artefak dan peninggalan sejarah seperti keramik kuno, benda kerajaan masa lampau, hingga makam raja. Berikut beberapa situs sejarah yang ada di Gampong Pande.

Kompleks makam Tuan Di Kandang

Di kompleks pemakaman ini, terdapat puluhan makam kuno dengan satu makam besar yang berada dalam sebuah bangunan terbuka berwarna putih. Makam besar tersebut ialah makam seorang penggagas Kerajaan Aceh bernama Abi Abdullah Syekh Abdurrauf Al Baghdadi atau populer dengan nama Tuan Di Kandang.

Di sekitar pemakaman tumbuh pohon-pohon yang membuat kompleks pemakaman ini menjadi rindang.

Tuan Di Kandang merupakan ulama asal Baghdad (Iran) yang datang ke daratan Aceh untuk menyebarkan Islam. Selain dikenal sebagai ahli fiqih dan ilmu tasawuf, Tuan Di Kandang juga ahli di bidang pemerintahan. Ia menggagas terbentuknya Kerajaan Aceh, yang kemudian resmi dideklarasikan pada 22 April 1205.

Sejak kedatangannya ke Aceh, Tuan Di Kandang dipercaya membawa peradaban di Gampong Pande seraya menyebarkan Islam kepada penduduknya yang beragama Hindu.

Kompleks makam Raja-raja

Kompleks Makam Raja-Raja berjarak sekitar 2 menit jalan kaki dari Kompleks Makam Tuan Di Kandang. Di Kompleks Makam Raja-Raja, ada banyak nisan kuno dari pemakaman raja-raja pada masa Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-16. Misalnya, Makam Raja Alaidin Mukmin Syah yang mangkat pada tahun 1576 dan makam Sultan Zainal Abidin.

Kompleks makam Putroe Ijo

Kompleks Makam Putroe Ijo diperkirakan sebagai kompleks peristirahatan terakhir seorang putri sultan Kesultanan Aceh Darussalam. Putri tersebut dinamakan Putroe Ijo karena kecantikan dan keindahan fisiknya. Di dalam kompleks ini, selain makam Putroe Ijo juga terdapat makam lainnya dari anggota Kesultanan Aceh Darussalam.

Mengenai sosok Putroe Ijo (Putri Hijau) sendiri berkembang banyak cerita di kalangan masyarakat dan sejarawan. Namun mereka sepakat bahwa Putroe Ijo merupakan keturunan dari seorang raja.

Di luar kompleks makam raja-raja di Aceh, Gampong Pande juga menyimpan sejumlah hal lainnya, seperti pohon bakau yang tumbuh di tambak masyarakat, tambak kepiting, dan pada tahun 2013 lalu warga setempat menemukan koin-koin emas dan pedang peninggalan VOC (Belanda) di dalam tambak. Menandakan gampong ini kaya sejarah. Ada yang sudah terungkap, ada juga yang belum.